Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Berita Sulteng

Progres Pengendalian Sedimentasi Sungai Paneki Capai Bobot 90% : Less Value Perbaikan Revetment/Retaining Wall Terus Berproses

22
×

Progres Pengendalian Sedimentasi Sungai Paneki Capai Bobot 90% : Less Value Perbaikan Revetment/Retaining Wall Terus Berproses

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Nesindonews.com Sigi Sulteng – Menelisik pekembangan pelaksanaan pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) berlabel MYC (Multi Years Contract) adalah proyek rehab rekon pengendalian sedimentasi sungai Paneki, progres pengerjaan saat ini diperkirakan baru mencapai bobot 90 persen.

Jejak telusur Nesindonews.com, jika melihat status kuantitas bobot hasil produksifitas dan tata kelolah serta mtode pembuatan konstruksi talud (grounsldsill) dibeberapa titik bagian yaitu rataining wall dan revetmen mengalami kerusakan yang cukup serius.

Example 300x600

Proyek yang dibandrol dengan nilai pagu sebesar Rp. 78. 818. 240.000.00 (Milyar) itu, bahwa penampakan fisik bangunan dinding penahan tebing (retaining wall) baru kurang lebih 2 tahun dinyatakan selesai, dibeberapa titik bagian kondisi konsturuksinya dikabarkan sudah mengalami rusak parah.

Padahal Proyek itu dilebeli dengan proyek MYC (Multi Years Contrack) plus PSN yang melekat di leding sektor Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawsi lll Palu Sulawesi Tengah, diketahui juga bahwa sejak awal penglolaan pembangunan proyek tersebut dikelolah oleh entitas perusahaan lain (penyedia jasa) sebelumanya, dan bukan PT. Arfat.

Jika merujuk pada jejak hasil capaian progres pengerjaan dari pengelolah terdahulu, bahwa ihwal rujukannya sebagai pengikat legalitas dan sekali gus memperkuat proses sistem tata kelolah kala itu, maka pihak penyedia jasa pun mendapatkan plot gain trust (kepercayaan) penuh dari penyelenggara kegiatan proyek.

Akan tetapi pergerakan mengenai acuan teknis dan metode sistem pengelolaan proyek yang juga dipantek dengan rentang waktu 680 hari Kalender itu, diduga bahwa perusahan tersebut, terindikasi abai terhadap aturan kerja, dan ditengarai juga bahwa entitas perusahaan tersebut memprotek pengelolaan proyek itu memforsir penggunaan anggaran itu dengan brutal dan tak beraturan.

Jelas sangat mempengaruhi dengan hasil pengerjaan, fakta adanya beberapa struktur bangunan talud, bahwa kondisi konstruksinya terlihat rapuh, hal itu diduga bahwa pemakaian bahan campuran materialnya tidak efesien dan tidak maksimal, sehingga hal itu menimbulkan beragam spekulasi para insan media.

Indikasi soal penggunaan anggaran dalam hal tata kelolah proyek itu, pengelolah diduga aut-autan dan amburadul ketika menjalankan sistem admistrasi terkait dana budgeting peruntukan pengelolaan proyek tersebut.

Parahnya perusahaann terdahulu itu justru meninggalkan kesan, bahwa jejajak (remaining work) akumulasi hasil dari nilai pekerjaan, hingga reduksifitas menyangkut kuatinty capaian progres kerja dalam proyek itu, difreming dengan apik dan signifikan.

Anehnya lagi, terkait soal kualitas dari hasil kerja yang ditinggalkan oleh perusahaan itu, endingnya (less value) atau tidak sesuai spek.

Dan juga ditengarai mengenyampingkan nilai spek dan kualitas hasil olahan yang permanen atau produk konstruksi yang telah dibangun, serta abai terhadap aspek akumulatif prosedural tehnik tata kelolah rancang bangun dari (Quantity surgayor) Konsultan.

Jika dilihat secara kasat mata dan fakta adanya kerusakan fatal dibeberapa titik bagian bangunan groundsill itu adalah bagian dari efek ketidak maksimalan penyedianjasa ketiaka menggarap proyek tersebut.

Dilain sisi bahwa runutan dari priode tetang peningatan capaian efektifitas progres serta output pengelolaan proyek pengendalian sediment sejauh 3,5 meter itu, diduga melenceng dari aturan spek yang ditetapkan.

Dan terbukti bahwa beberapa struktur konstruksi dinding groundsill tampak mengalami kerusakan atau kondisi beton dibeberpa titik retak-retak dan terlihat rapuh, bahkan dinilai cukup fatal dan kian meprihatinkan, dan juga minim penilaiaan (minimal assessment).

Diketahui juga bahwa lokasi pembangunan proyek Pengendalian Sedimen Sungai Paneki, posisinya berada areal jalur tapal batas antara Desa Jono oge dan Desa Sidera Kec. Biromaru Sigi.


Sumber lain dihimpun awak media juga mengatakan, bahwa sebenarnya kontrak kerja proyek proyek MYC (Multi Years Contract) River Improvemen And Sediment Control In Paneki River (Middelsteam) dengan Nomor Kontrak HK0201/SP.ll-PJSA.ST/Bws13/56, dimulai 2020 -sampai batas waktu kerja yang ditentukan.

Tetapi kini baru saja berjalan 5 tahun tampak hasil dari pada pengerjaan dibeberapa bagian pada titik garap struktur konstruksi bangunan talud, sekarang ini sudah banyak mengalami rusak parah diantaranya :

Konstruksi beton Revetment yang berfungsi untuk memecah dan menyerap dampak gelombang yang manakala menghantam lereng dan juga untuk melindungi material yang membentuk inti tanggul, atau beton dalam restorasi aliran sungai, dimana campuran agregat dan lapisan materialnya tahan benturan.

Namuan sayangnya kondisi terkini konstruksi revetment itu, sebagian permukaan betonya telah hancur.

Diduga juga bahwa output kesesuaian bahan material yang digunakan untuk keseimbangan perekat cmpuran agergatnya kurang pekat.

Begitu juga yang terjadi pada konstruksi dinding penahan tebing (retaining wall) dibeberapa titik bagian, sekarang juga terlhat rapuh, bahkan mengalami retakan yang cukup parah.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa proyek yang dibandrol dengan pagu puluhan milyar itu, kini kondisi strukktur bangunanya tampak dikerjakan seampangan dan asl-asalan, padahal keberadaan talud, disamping melindungi banjir, juga mengentrol dan mengantisipasi adanya sedimen di singai tersebut.

Sangat tak elok apa bila ada jejak pembangunan proyek yang kapsitasnya berskala nasional itu, review pergerakannya disokong oleh Dana Loan Japanes Internationan Coorporation Agency sebesar 78 Milyar lebih melalui BWSS lll Palu Sulteng, nilai anggara yang cukup fantastis, tetapi anehnya mengapa mengulikan proyek itu, terkesan dikerjakan serampangan dan tidak maksimal oleh salah satu entitas perusahaan terafiliasi dengan BUMN yakni penyedia jajsa (kontraktor) tatkala meriduksi tata kelolah proyek tersebut.

Indikasi adanya hitung-hitungan saling menguntungkan pun diduga tak terelahkan lalu terjalin kesepakatan terselubung hingga berbuah manis antara penyelenggara proyek dan penyedia jasa.

Maka impek dari kecenderungan hasil garapan proyek yang diduga menyalahi aturan kerja yang telah dutentukan itu, maka indikator soal pelakksanaan tata keloh dalam lingkup perusahaan dinilai brutal dan amburadul.

Dampak negatifnya boleh jadi bahwa semu struktur konstruksi bangunan talud hanya seumur jagung atau tak sampai 10 tahun, bangnan groundsill itu akan jebol dan hancur.

Celakanya, tentu efeknya lebih meniti beratkan pada proksi keuntungan sepihak, tak peduli bahwa yang dirugikan adalah uang negara, terlebih lagi efek yang paling fatal, jika kerusakan dinding beton talilud tidak segera diperbaiki, justru akan menimbulkan kekhawatiran, terutama warga disekitaran bantaran, lambat laun bencana tersebut akan kembali mengacam.

Berkaitan dengan sambungan pekrjaan proyek normalisasi sungai paneki, terkait pelaksanaan kontrak – surat perintah muiai kerja (SPMK) tertanggal 12 Juni 2023, atau perpanjangan kontrak kerja dilanjutkan oleh penyedia dari PT. Arafat.

Menurut pantuan awak media, adanya titik lanjutan dari progres pengerjaan oleh penyedia jasa terdahulu yaitu, dimulai dari titik 2+140, batas truct (area) yang terakumulasi dalam volume kerja sebelumnya itu, sudah dianggap tuntas .

Tampak sambungan pengerjaan proyek tersebut berada dijalur yang sama, dan saat ini pembangunan konstruksi groundsill itu, juga masih terus berlangsung.

Antho Kepala Proyek PT. Arafat mengatakan, mengenai diseminasi peningkatan progres pengerjaan proyek pengendalian sediment sungai Paneki, saat ini masih dalam proses pengkondisian tahap perampungan, pengerjaan fisik konstruksi intens mencapai bobot 90 persen.

“Adapun terkait perihal penetapan keberlanjutan kontrak proyek tersebut dimulai pada Agustus 2023 sampai dengan masa rentang waktu 2025, “katanya.

Dia mengungkapkan, mengenai adanya beberapa item pengerjaan konstruksi yang mengalami kerusakan antara lain, revetment atau beton dalam restorasi aliran sungai yang berfungsi untuk mencegah dan menyerap dampak gelombang serta melindungi material yang membentuk inti tanggul.

Selain itu pada beberapa titik bagian track groundsill atau struktur beton (retaining wall) talud yang sudah mengalami keretakan, secara teknis spesifikasi pengelohan tingkat kepekatan elemen materialnya, mixture of materials telah sesuai standar kerja yang ditentukan.

“Hanya saja soal jejak penggarapan dinding talud yang kini tampak mengalami keretakan dini (premature cracking), masih dapat diseimbangkan dengan tehnik kesesuaain struktrur material tambahan tatkala ada perbaikan lanjutan, dan idealnya sistem pengerjaannya nantinya akan disesuaikan juga dengan ketambahan elevasi plus sesuai penerapan eskalasi (volume) proyek dan kebutahan dasarnya, “pungkasnya.

Menurutnya hal yang mengakibatkan hingga terjadinya kerusakan pada revetment dan dinding beton penahan tebing, hal tersebut disebabkan karena faktor dari efek fenomena alam yang manakala cuacnya tak dapat diprediksi.

Terlebih lagi dari hulu tiba-tiba banjir menyeret dan menghanyutkan berbagai macam sediment hingga memicu terjadinya gesekan gelombang (Aus) air sungai, dan juga disertai benturan sesiment, seperti batu besar, pasir dan material berbahaya lainnya, yang diyakni cukup ekstrim menghantam dan menggerus konstruksi beton itu.

“Meski demikian, maka secara keseluruhan untuk mereduksi sistem pengolahan struktur konstruksi bangunan penahan tebing itu, secara tehnik juga bahwa proyek rancang bangun pembuatan talud tersebut, secara sistematis telah dirancang khusus, terutama dari segi kepekatan campuran bahan materialnya, lalu diolah sekuat dan setahan mungkin serta dijamin tahan dari gelombang ekstim dan benturan sediment sungai, “jelasnya.

Lanjut Antho, runut soal estimasi pengololaan proyek tersebut, yang sebelumnya digarap oleh entitas perusahaan lain, tetapi sejatatinya proyek yang diclosing mendapatkan gain tarastitif dengan track sejauh 3,5 km itu, kini pergerakannya sudah mendekati ketitik garap perampungan, capaian progresnya pun intens dengan bobot 90% dan makin signiglfikan ketahapan selanjutnya.

Maka setelahnya proses keberlanjutan kegiatan pengelolaan rehab rekon proyek itu dipercayakan pada perusahaan kami untuk memprospek penyelarasan dalam bentuk kesesuaian format tata kelolah lanjutan, plus pengulikan serta perbaikan ulang pada beberapa bagian kerusakan konstruksi talud yang ditinggalkan kontraktor sebelumnya, “tukasnya.

Kini pengelolaan lanjutan srtuktur banguanan itu, masih intens pada pengerjaan pepaket proyek serupa yakni, Proyek berlabel MYC atau PSN River Improvement End Sediment Control In Paneki River (Middelstream) atau Pengendalian Sedimentasi di sungai Paneki.

“Adapun pengerjaan proyek itu, tetap dioptimalkan dan berproses seuai ketentuan spek serta mengikuti aturan kerja yang ada. “tambahnya.

Redaktur Lengie

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *