Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Berita Sulteng

Proyek Rp20,8 Miliar Diduga Dikerjakan Asal-asalan, Aspal Jalan Sintuwu–Karunia di Sigi Terancam Tak Bertahan Lama

21
×

Proyek Rp20,8 Miliar Diduga Dikerjakan Asal-asalan, Aspal Jalan Sintuwu–Karunia di Sigi Terancam Tak Bertahan Lama

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Nesindonews.com – Sigi Sulteng – Proyek peningkatan jalan Sintuwu–Karunia yang dikerjakan oleh Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Sulawesi Tengah (BPJN Sulteng) kembali menuai sorotan tajam. Paket IJD Peningkatan Jalan Sintuwu–Karunia dengan nomor kontrak HK.0201-SP18.6.3/750 tersebut dikerjakan oleh PT. Perkasa Mandiri Karvatama dengan nilai kontrak fantastis mencapai Rp. 20,8 miliar.

Ironisnya, proyek yang menyerap uang negara hingga puluhan miliar rupiah itu diduga dikerjakan secara terburu-buru hanya dalam durasi 30 hari kalender.

Example 300x600

Hasilnya pun jauh dari kata memuaskan. Berdasarkan hasil reportase di lapangan, kondisi aspal sepanjang kurang lebih 6 kilometer tersebut sudah menunjukkan tanda-tanda kerusakan meski baru saja selesai dikerjakan.

Aspal Sudah Terkelupas, Permukaan Kasar dan Mudah Tergores

Di sejumlah titik, aspal tampak tergores dan mulai terkelupas. Permukaan jalan terasa kasar dan tidak rata, memunculkan dugaan kuat bahwa kualitas campuran maupun proses penghamparan tidak dilakukan sesuai standar teknis.

Seorang warga sekitar yang enggan disebutkan namanya mengaku kecewa dengan hasil pekerjaan tersebut.

“Kalau begini hasilnya pak, tidak lama rusak ini aspal dan salurannya. Itu kalau hujan deras, kasihan tempat perkuburan warga di sini,” ujarnya.

Keluhan warga bukan tanpa alasan. Secara kasat mata, kualitas permukaan jalan tampak tidak solid dan berpotensi cepat mengalami keretakan, terutama saat menghadapi curah hujan tinggi dan beban kendaraan berat.

Pekerjaan Saluran Diduga Asal Jadi

Tak hanya aspal, pekerjaan struktur saluran air berupa pasangan udit dan pasangan batu mortar juga diduga dikerjakan secara serampangan.

Hasil pantauan di lapangan menunjukkan sambungan pasangan udit tidak presisi dan terlihat dikerjakan tanpa kerapian. Bahkan pekerjaan bahu jalan tidak dilakukan secara menyeluruh, melainkan hanya pada titik-titik tertentu (spot-spot), sehingga memunculkan kesan proyek dikebut tanpa memperhatikan kualitas dan ketahanan jangka panjang.

“Itu tidak akan bertahan. Tiga bulan ke depan sudah rusak parah itu,” tambah warga lainnya.

Kondisi ini memicu dugaan adanya pengurangan spesifikasi atau pelaksanaan yang tidak sesuai dengan dokumen kontrak

Dengan nilai proyek yang mencapai Rp20,8 miliar, publik berhak mempertanyakan apakah anggaran tersebut benar-benar direalisasikan sesuai perencanaan teknis dan RAB yang telah ditetapkan.

Dugaan Minim Pengawasan dan Potensi Kerugian Negara

Proyek dengan durasi hanya 30 hari kalender untuk pekerjaan sepanjang 6 kilometer meliputi pengaspalan jalan, pasangan udit, pasangan batu mortar, serta bahu jalan dinilai banyak pihak terlalu singkat untuk menghasilkan mutu konstruksi yang optimal.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan serius: Apakah proses pengawasan berjalan maksimal?
Apakah kualitas material dan metode kerja telah memenuhi standar Bina Marga?
Atau justru ada indikasi pembiaran demi mengejar target administrasi semata?

Kepala BPJN Sulteng, Bambang S. Razak, bersama Hidayat selaku PPK 2.3 Provinsi Sulawesi Tengah yang bertanggung jawab atas paket IJD Sintuwu–Karunia, telah dikonfirmasi terkait temuan ini. Namun hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan resmi yang diberikan.

Sikap bungkam tersebut semakin memperkuat kecurigaan publik terhadap transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan proyek yang menggunakan uang negara.

Publik di Desak Minta Audit Menyeluruh

Dengan kondisi jalan yang baru selesai namun sudah menunjukkan tanda-tanda kerusakan dini, masyarakat mendesak dilakukan audit teknis dan audit anggaran secara menyeluruh.

Jika terbukti terjadi penyimpangan spesifikasi atau pelaksanaan tidak sesuai kontrak, maka aparat penegak hukum dan lembaga pengawas diharapkan turun tangan.

Proyek infrastruktur seharusnya menjadi solusi bagi masyarakat, bukan justru menjadi beban baru akibat pekerjaan yang diduga amburadul dan tidak bertahan lama.

Uang negara yang berasal dari pajak rakyat wajib dipertanggungjawabkan secara transparan, bukan sekadar dihabiskan demi mengejar serapan anggaran.

Hingga kini, warga hanya bisa berharap agar proyek jalan Sintuwu–Karunia tidak menjadi contoh lain dari pembangunan yang megah di atas kertas, tetapi rapuh di lapangan.

Reporter : Nelwan Makuraga-red

 

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *