nesindonews.com Sigi Sulteng – Baru berjalan hampir dua tahun usai pengerjaan proyek Irigasi Gumbasa (rehabiltasi rekonstruksi irigasi gumbasa) dan selama itu pula air Irigasi tersebut dioprasikan, kini pasokan air tersebut sudah berjalan lancar mengairi ribuan hektar sawah dan ladang para petani dibeberapa Kecamatan di Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah.
Kini penampakan sebagian klaster konstruksi irigasi tersebut kondisi bangunannya kian memprihatinkan diantaranya, sheet pile DPT dibeberapa titik mengalami retakan, bangunan jariangan tersier dibeberapa titik ubinya mulai meletok, infra jalan inspeksi dibeberapa titik juga mengalami longsoran.
Tak hanya itu, bahkan kondisi bangunan pondasi DPT (dinding penahan tanah) di titik jalur sungai Wuno perbatasan antara desa Bora dan Soulove mengalami rusak parah, sebagian betonnya rubuh dan patah dan nyussep, hingga membentang miring didalam sungai tersebut
Buntut dari suksesnya pembanguanan irigasi gumbasa tersebut kini berujung kekhawatiran.
Diketahui hal itu disebabkan karena adanya kerusakan teknis dibeberapa titik sensitif konstruksi miringan DPT (dinding penahan tanah) turap beton pada jarinagan primer, jaringan tersiar dan ambruknya jalur infra jalan inspeksi dibabtaran irigasi tersebut.
Kekhawatiran itu telah menyeruak menjadi polemik yang tak berujung, hingga menjadi bisisk-bisik lirih berseliwiran, dan juga menjadi sorotan dikalangan para insan Pers.
Nilai gain trust hasil produksi afiliasi BUMN dibandrol pagu ratusan miliar rupiah diselimuti kabut misteri
Adapun output capaian pembangunan proyek multi years yang kala itu peresmiannya dihadiri langsung oleh presiden ke 7 RI itu, hingga mengenai anggaran pembanguanan proyek itu murni disokong oleh dana hiba JICA Patnership Program (JPP) atau Japan International Coorpotation Agecy (JICA) dan Asian Develoment Bank (ADB) dan dibandrol dengan nilai pagu yang cukup fantstik sebesar ratusan miliaran rupiah
Bantuan dana hiba itu diglontorkan melalui Kementrian PUPR Dirjen Sumber Daya Air Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi III Palu Sulawesi Tengah.
Kolaborasi pemerintah dan perusahaan BUMN solid dan efesien, antara nilai plus dan minus
Hasil investigasi tim awak media News Lintas Sulawesi, proyek rehab rekon irigasi gumbasa pasca tragedi bencana alam gempa,
stsunami dan likuifaksi pada 2018 yang silam, jika dilihat dari sisi lain jejak atau “footsteps” kualitas hasil pekerjaan yang ditinggalkan oleh sejumlah kolaborasi kontraktor BUMN itu, sambilalu capaian bobotnya cukup signifikan dan punya nilai estika.
Polemik dibalik suksesnya pengelolaan irigasi dan efek manfaat dirasakan petani
Indikator lain dibalik sukseknya nuansa pengelolaan proyek tersebut, sekarang memunculkan beragam asumsi negatif dari berbagai kalangan.
Terkait eksekusi pengelolaan 5 paket proyek tersebut kala itu kontras dikerjakan oleh sejumlah afiliasi perusahaan BUMN diantaranya PT. Dutahutama Karya Persero Tbk. PT. Wijaya Karya (WIKA) Persero Tbk dengan KSO PT. Pasokkorang, PT. Adhi Karya Persero Tbk, PT. Pembangunan Perumahan (PP) Persero Tbk, dan proses pengerjaan proyek pun diakui terlaksana dengan baik, namun terkesan abai terhadap aturan kerja.
Betapa tidak frasa ketimpangan tentang prosedural asumtif pada aspek manegement admistrasi pengolahan didalam atmosfir kerja sama antara pihak penyelenggara proyek dan perusahaan penyedia jasa (kontraktor) diduga rentan terbalut misteri kenjanggalan hingga memunculkan tafsiran beragam dan berujung tanda tanya.
Munculnya kekhawatiran masal para petani dipenuhi tanda tanya
Tak ayal afiliasi perusahan BUMN tersebut, intens melibatkan kolaborasi KSO (kerja sama operasi) dari sejumlah entitas patnership perusahan suwasta dan sebagai bagian kerja sama yang solid. Tak dinafikan sejumlah Subkon lokal juga dilibatkan ikut ambil bagian dalam kegiatan preoyek tersebut.
Akan tetapi anehnya meski secara keseluruhan spesifikasi teknis pengelolaan proyek itu dikerjakan dengan capaian progres kerja yang signifikan, presfektif lain dari segi frekuwensi ketahanan bobot dan outentikfikasi terkait hasil garapan, juga diduga menuai masalah kenjanggalan, yaitu soal kualitas produksi konstruksi bangunan beton turap dibeberapa titik jaringan primer yang tampak mengalami retakan yang cukup parah.
Belum lagi meletoknya ubin penahan resapan air pada jaringan tersier dibeberapa titik, dan ambruknya timbunan jalan inspeksi di sejumlah titik dibantaran irigasi itu.
Orientasi harapan perbaikan ekonomi petani dan efek kecenderungan terus mengaburkan landscape irigasi
Kejanggalan lain juga disinyalir menyelimuti sistem pengelolaan proyek multi yers itu, yakni terkait dugaan soal kecenderungan tata kelolah yang ditengarai ugal-ugalan dan pasif, belum lagi menyangkut masalah pengklasteran obyek disetiap jalur tretment pekerjaan tersebut.
Dimana secara teknis clousing perampungan pengerjaan proyek pun jika dilihat secara kasat mata sepsifikasi olahan seluruh konstruksi bangunan seolah kontras sesuai speak, dan berjalan mulus dan tuntas.
Padahal bila dianalogikan secara rasio, dimana standar kesesuaian struktural pengulikan konstruksi irigasi itu teridentifikasi banyak kekurangan, terutama dari segi nilai estetika dan nilai trusting (kepercayaan).
Temuan adanya kejanggalan dibalik estetika dan kemegahan pada hasil pencapaian produksi dalam pengelolaan proyek tersebut, hingga menyangkuat setiap detil hasil pekrjaan pun selalu mendapatkan pengawasan ketat yang secara kontinyu dari pihak penyelenggara proyek dan pihak JICA patnrership Program (JPP) dan ADB.
Namun sejauh ini ketimpangan itu tak dapat dinafikan, yaitu terkait soal struktur pasangan miringan konstruksi dinding penahan tanah (DPT) turap beton (sheet pile) disepanjang jalur primer, terlihat banyak mengalami retakan yang cukup fatal.
Begitu juga dengan karakteristik seluruh fisik bangunan irigasi tersebut, tampak stabilitas produksi hasil olahan proyek itu, tak berkeseuaian hingga patut dipertanyakan.
Prospektif mengalirnya air irigasi gumbasa membawa dampak positif meluas tanpa batas, asa memakmurkan petani
Sementara itu dampak lain tentang adanya kerusakan dibeberapa bagian konstruksi bangunan irigasi itu kini terus memunculkan kekhawatiran banyak pihak, terutama dikalangan para petani disejumlah Kecamatan di lembah Sigi dan dua kelurahan di Kota Palu.
Meski pengeporasian air irigasi gumbasa dalam kurun waktu dua tahun ini para petani disejumlah Kecamatan telah merasakan dampak manfaatnya.
Bahkan dalam setahun belakangan ini juga para petani dilima Kecamatan diantaranya, Kecamatan Gumbasa, Kecamatan Tanambulava, Kecamatan Sigi Kota dan Kecamatan Biromaru telah beberapa kali menui hasil panen raya padi (gabah) yang cukup melimpah.
Jika menilik perihal tentang program dan kebijakan mantap pemerintah terkait revititalisasi dan peningkatan skema pembanguanan diberbagi sektor dalam skala prioritas, terutama penguatan implementasi percepatan pembanguanan prasarana infrastruktur akan terus digenjot. Termasuk sukseknya pembangunan irigasi gumbasa, dimana kontrak kerjanya saat itu hanya dalam janka waktu dua tahun.
Salah satu Langkah mantap Pemprov Sulteng dan Pemkab Sigi memakmurkan Petani, patut diapresiasi
Program pemerintah tersebut bertujuan untuk mensejahterakan seluruh masyarakat petani, baik di lembah Sigi maupun di dua Kecamatan kota Palu.
Terlebih lagi tujuan utama Pemkab Sigi untuk menyiasati visi program pembangunan dalam skala prioritas, yang sejatinya telah bersinergi terhadap semua pihak yang berkompoten untuk membangun langkah strategis guna melakukan percepatan pembangunan serta mengulik perbaikan ekonomi makro agar kedepannya dapat menjadikan Kabupaten Sigi menjadi salah satu kantong produksi pertanian dan lumbung pangan di Kabupaten Sigi, khususnya di Sulawesi Tengah.
Apa lagi dalam kurun waktu kurang lebih dua tahun belakangan ini air irigasi gumbasa itu telah dioprasikan dengan lancar, hingga kemudian para petani di Sigi diyakini dapat menata kembali ekonominya dengan baik.
Terkait pembangunan infrastruktur proyek Irigasi Gumbasa yang kala itu teknis pengerjaannya kontras dikeroyok oleh entitas perusahaan BUMN, dan lima paket pembangunan proyek tersebut dibangun guna bertujuan menyahuti kebutuhan pasokan air untuk tetap mengairi sawah para petani di lembah Sigi pada umumnya.
Sayangnya dibeberapa klaster pengelohan struktur konstruksi beton dinding penahan tanah (DPT) atau sheet pile (beton turap), jaringan primer Irigasi, jalur infra jalan inspeksi dibantaran irigasi, dan beberapa jaringan tersier, ubinnya juga mengalami rusak parah, terkelupas dan hacur.
Stabilitas pemanfaatan air irigasi gumbasa terus mengalir dan efektif, dan dampak kekhawatiran terus mengintai tanpa ujung
Fakta adanya kerusakan disejumlah titik, diyakini dapat mempengaruhi karekteristik struktur konstruksi disepanjang jaringan primer irigasi tersebut.
Hal itu dapat menyebabkan peredaran air di beberapa saluran sekunder bisa jadi tak berfunsi dengan lancar.
Padahal dulu tatkala proses pebgolaan proyek itu berlangsung, teknis pengawasannya cukup ketat dari pihak penyelenggara BWS, belum lagi kontintyuitas pengawasan khusus dari pihak penyekong dana JPP (JICA Patenership Program) dan ADB (Asian Develoment Bank) kala itu juga melakukan pengawasan serupa.
Diketahui juga progres pelaksanaan dari 5 paket proyek tersebut dilakukan secara bertahap.
Runut hasil pembangunan proyek multi years irigasi gumbasa, perlu dilakukan investigasi ulang dan adanya pengawasan hukum secara obyektif
Tak hanya itu seluruh paket pekerjaan tersebut terangkum dalam plot kegiatan paket 1 sampai paket 5, adapun aksen kegiatan proyek itu dimulai sejak tahun 2021 sampai dengan closing perampungan pada limit waktu Desember 2024.
Idikasi yang mencolok dimana pengelolaan proyek multi years tersebut, diduga menyisahkan ketimpangan.
Cukup diakui, secara keseluruhan (overall) klaster pengaturan teknis tata ruang format kerja yang telah dijalankan oleh sejumlah penyedia jasa kontraktor,
stabilitas pengelolaan proyek itu, juga ditengarai aut-autan dan abai terhadap kesesuaian speak, maka sebaiknya dari pihak lembaga hukum yang berkewenangan diminta untuk melakukan investigasi ulang dan mengaudit pihak terkait secara obyektif.***


















