Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Opini

“Proyek Rekonstruksi Pasca Bencana Pasigala: Antara Harapan dan Kenyataan”

13
×

“Proyek Rekonstruksi Pasca Bencana Pasigala: Antara Harapan dan Kenyataan”

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

nesindonews.com Sigi Sulteng – Eksistensi sejumlah vendor getol membidik para entitas dan kontraktor perusahaan BUMN konstan dilirik agar ikut andil dalam pengelolaan proyek multi year pasca bencana alam Palu Sigi, Donggala Sulawesi Tengah dilebeli dana triliunan rupiah, merupakan fenomena bahwa indikasi visioner dalam skala prioritas sejumlah korporasi perusahaan raksasa tersebut ready fight berpacu mengais pundi-pundi rupiah dengan masif.

Jejak investigasi nesindonews.com Ahad (15/10/2023), eskalasi acuan proyek revitalisasi peningkatan infrastruktur Pasca bencana gempa, likuifaksi Palu, Sigi dan Donggala (Pasigala) yang diprioritaskan oleh penyelenggara kepemenang tender kala itu antara lain, proyek Rekonstruksi Rehabilitasi Saluran Jaringan Irigasi Gumbasa paket (l) digarap oleh PT. Minarta Dutahutama, paket (ll) digarap oleh PT. Wijaya Karya KSO Pasokorang, juga didukung oleh sejumlah Subkon lokal

Example 300x600

Paket (lll) digarap oleh PT. Pembangunan Perumahan (PP) Persero Tbk disokong sejumlah subkon. Paket pekerjaan lV, V, Vl adalah paket eksklusif dikelolah oleh PT. Nindya Karya (persero) Tbk.

Kemudian untuk paket proyek Sabo Dam (channel work), normalisasi sungai dibeberapa titik arel yakni, desa Bangga, Dolo Selatan di garap PT. SMS, Desa Poi (Dolsel) digarap oleh PT. Muria Utama, Desa Omu/Kulawi digarap oleh PT. Runggu Prima Jaya dan output Sabo Dam edisi paket terbaru di Kab. Sigi meliputi gaint transtitif dua paket pekerjaan yaitu, terletak di Desa Bola Papu Kecamatan Kulawi Kab. Sigi.

Dan prospektifitas object lain, juga masih berkutat pada pembangunan Sabo Dam, proyek (Sabo Dam) tersebut kini dilanda problem dilematis dan terancam mangkrak, proyek itu terletak di desa Pakuli Kec. Gumbasa Sigi, plus jembantan penghubung di jalur jalan lintas provinsi adalah, jembatan penghubung di sungai Rogo di desa Rogo Dolsel Sigi, dan jembatan di sungai Pondo di desa Beka Marawola Sigi.

Proyek tersebut murni dikerjakan oleh perusahaan Suwasta adalah PT. Waskita KSO Midel Jaya Purnama namun sayangnya, perusahaan suwasta yang berasal dari Jawa Barat itu, struktur tata kelolah management dan metode sistem garab rekonstruksi fisik (rehab rekon) peritem, terkesan ambu radul dan jalan ditempat alias saat ini mengalami defisit.

Untuk peningkatan pembangunan Jalan Lintas yang terdampak gempis Pasigala yaitu, terpaut Pembangunan pengelolaan jaringan sistem transmisi Air Baku Pasigala atau Pipanisasi Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM), maka yang menjadi sorotan dan cakupan analisis media D’news adalah, progres (still walking) atau masih dalam pengerjaan proses perampungan, diketahui bentangan panjang volume kerja dari hilir kehulu 150 km.

Tatkala proyek multi years jaringan sistem transmisi air baku pasigala (SPAM) yakni paket lainya digarap juga oleh PT. Minarta Dutahutama (persero) Tbk KSO perusahaan sederajat, dan paket dua digarap oleh PT. Pembangunan Perumahan (persero) Tbk, yang juga ditempel para mitra Kerja Sama Oprasional (KSO) dan subkon.

Proyek pipanisasi (SPAM) itu meliputi, pengerjaan gaint transtitif bongkar gali-uruk, dan pengerjaan proses instalasi jaringan pipa dibawah tanah, maka kesemua aksen dan struktur pengololahan proyek tersebut

“Terutama pada tahap penimbunan pipa di badan-badan jalan poros (provinsi), kemudian spiill atau tumpahan material pada saat dilakukannya pengamapran dan pemadatan, karakter literal spill nya diduga tidak maksimal alias tingkat kepadatan material timbunan disepanjang leandscape (tampilan mencakup semua unsur wilayah) untuk object transtitif tidak pekat, dan akumulasi poin dan ponten plus-minus pada volume-up proyek skala nasional itu disinyalir tingkat kesusuaian pada speak dan sistem priodic stockpiling (penimbunan berkala) diduga melenceng dari aturan kerja yang berlaku.

Selain itu dibeberapa titik badan jalan poros banyak yang mengalami longsoran akibat spill kurang pekat dan padat. Selain itu kapasitas urukan why down (mengapa turun) dan secara literally terlihat penampakan disepanjang areal volume kerja proyek itu, urukan bergelombang dan membumbung, juga tak sepadan dengan ruas jalan disekitaran. Hal tersebut tuai keluhan masyarakat.

Femomena yang cukup mengherankan dan membuat kita terperanga, pada saat moment dipenghujung bulan Mei 2024 yang lalu Presiden RI Ir. Joko Widodo Telah meresmikan proyek Rekonstruksi Rehabilitasi Irigasi Gumbasa beserta sejumlah proyek lainya, diketahui proyek Irgu paket lll, V, dan Vl bila dilihat dengan mata telanjang, ternyata penggarapan ditiga titik lanskep paket proyek tersebut, capaian progresnya belum selesai 100 %.

Seperti halnya PT. PP (persero) Tbk usai kepengurusan pertanggung jawaban dll, manakala hasil pekrjaannya secara teknis kuantitas speak pada fisik konstruksi secara kasat mata tampak orisinil dan megah dan pekerjaan pun sudah tuntas mencapai progres 100% (tampilan bobot saluran primer spesifik) namun, masih menyisahkan sejumlah garapan pekerjaan saluran sekunder dll yang sampai hari ini belum tuntas.

Telusur team investigasi News Lintas Sulawesi, menyoroti hal itu, bahwa fakta dilapangan, masih banyak terdapat sejumlah bahan material proyek yang mubazir antara lain, U-Ditch dan Boks Calvert dll, begitu juga dengan saluran kuarter adalah saluran yang membawa air dari bangunan yang menyadap dari boks tersiar, yang menyadap boks tersier menunuju saluran sekundar namun pengerjaan proyek Irgu sampai hari ini juga belum juga tuntas, justru menyisahkan kesan pilu dan keluhan yang kian menyeruak di masyarakat.

Hal tersebut kini dirasakan dan dialami masyarakat petani disejumlah wilayah Kecamatan Dolo dan Sigi Kota Kabupaten Sigi Sulteng. Peredaran suplay dan pasokan air di saluran saluran primer irigasi itu debit arinya pun intens sangat signifikan, meski sudah mengalir sampai jauh namun, hanya sekedar numpang lewat, dan baru sebagian masyarakat yang dapat mengaliiri sawah dan pertaniannya. Sebab pasokan air tersebut riak mengalir melewati ribuan hektar sawah dan ladang petani yang hingga saat ini penampakannya masih tampak gersang dan meranggas.

Betapa tragis hidup para petani yang belum dapat mengolah lahan dan sawahnya, dan alangkah nikmatnya mereka para pelaku penyedia dan penyelenggara “happy ending” seoleh mengabaikan dan mengindakan keluh keash dan rintihan pilu para petani.

Preservasi peningkatan pembangunan jalan dan pengaspalan yang terakomudir mencakup dibeberapa titik areal landscape dan dipetakan kejalur jalan lintas Provinsi, Kabupaten Kota dan Kecamatan, Baik Kota Palu maupun Sigi dan Donggala, terkait eksekusi soal penggunaan anggaran pun dinilai ugal-ugalan oleh entitas perusahaan perseroan tersebut.

Maka chenel pada paket pekerjaan peningkatan pembangunan fasilitas jalan lintas, pengelolahanya dikeroyok juga oleh kerja sama konsorsiaum dan kontraktor BUMN yang populis dikanca bisnis nasional seperti, PT. Waskita Karya, PT. Adi Karya dll.

Kasak kusuk penggunaan dana alokasi yang di glontorkan secara jor-joran ke penyelenggara proyek pasca bencana alam di Sulteng, tumpah ruah dalam ambang batas ketidak wajaran, subjectifitas dan prefernsi asumsi polarisasi dan poksi para pelaku korporasi dengan konsorsium penyangga perusahaan perseroan tersebut, terjalin orientasi konspirasi membeack-up sentimen surplus, dan membungkam lonjakan nilai rupiah dengan terang benderang merayu didepan mata namun, ucuk-ucuk terselubung, maka feming proyek perbaikan dan peningkatan infrastruktur pasca bencana alam Pasigala dilirik menjadi object strategis konspirasi interen dikalangan para pebisnis borjuice (konglomerat) include membuahkan hasil, “perduli setan” meski hingga merugikan uang negara ratusan miliar rupiah.

Nilai penggarapan proyek pun diesekusi menurut kesesuaian volume kerja dan progres, hingga aspek mencapai kuantitas bobot dan mutu pekerjaan yang sinifikan dan dipoles secara paripurna. Kemudian diselaraskan pula dengan performace and effort (upaya dan kinerja).

Padahal realitas dilapangan tak tak dapat disangkal, bahwa memang proses rehap rekon terkait pengerjaan proyek yang diplot dalam jangka waktu 1 setengah tahun atau sampai 2 thn bahkan melebihi dari kontrak kerja pada ambang batas yang ditentukan oleh penyelenggara namun, persentasi progres terakomodasi lewat fiew terperinci dan inklusi Adendum atau elevasi perpanjangan kontrak kerja pada proyek BUMN tertentu, yang juga terakomudir melalui kontrak karya, esek-esek kong kalikong sama dengan cukong, hingga terjadi pembengkakan anggaran proyek gila-gilaan melebihi ambang batas ketidak wajaran pendanaan

Aliran dana yang bergulir dalam skala prioritas untuk pelaksanaan proyek pembangunan infrastuktur yang dirunut usai bencana alam Pasigala itu intens disokong oleh Dana Alokasi Khusus (hiba luar negeri) atau dana Loan Japan International Corporate Agency (JICA) dan Asian Develoment Bank (ADB) melalaui Kementrian PUPR BWSS lll Palu Sulawesi Tengah.

Namun, skema internal anatara penyedia dan penyelenggara kerap dinalar “ada udang dibalik batu” hingga berujung manis, dan terkondisi dengan aman, lost of protection (banyak yang dilindungi).

Tak dipungkiri banyak leader perusahaan BUMN dan entitas perusahaan suwasta pun berlomba menggarap proyek pasca bencana gempa, likuifaksi Pasigala di Sulteng, sejak direalisirnya kotrak kerja proyek itu hingga konsolidasi penggunaan anggaran bakal ketetapan Bill if Quantity (BQ) adalah sebuah daftar yang memuat item-item pekerjaan dan kuantitas pekerjaan yang dibutuhkan untuk mewujudkan proyek konstruksi.

vendor (penjual/penyedia jasa) dan kontraktornya terlibat dalam intrik manuver urusan pengolaan proyek multi year yang dilelang oleh penyelenggara, bahkan persengkokolan nakal pun tak terhindarkan antara penyedia dan penyelenggara, juga tak ketinggalan pula quality control dicekoki untuk dibungkam.

pasalnya literal manner dari kedua entitas yang berkompoten baik penyedia maupun penyelenggara gemar memposisikan ihwal pandangan inklusi itu hanya sebatas repesetasi sebagai penggarap proyek dan transparansi nomentklatur (tata nama atau penamaan) yang dinaungi oleh payung Kementrian PUPR Balai Wilayah Sungai Sulawesi (BWSS) lll Palu Sulawesi Tengah.

Brand perusahaan BUMN memang punya kans besar dan memiliki legal stending nomor waid yang luar biasa, juga mupuni menghandle, memanagement dan membeack-up proyek-proyek berskala besar ditingkat nasional. Implikasi untuk kesiapan mendobrak visi kerja kebergai lini spesifik mengulik perbaikan, pengembangan serta peningkatan infrastruktur yang terdampak gempa mega trash di kawasan Palu, Sigi dan Donggala Sulaweai Tengah.

Prospek loncatan sepak terjang perusahaan korporasi raksasa yang juga di sokong oleh konaorsium kerja sama spekulasi laba/rugi atau plus-minus pun tak dapat dihindarkan lagi demi mengejar target menguntungkan duabelah pihak. Pilar kekuatan yang membentengi perusahaan milik negara itu secara sistimatis dinaungi juga oleh otoriterian pemerintah, hingga persekutuan fasilitas termobilisasi dengan mudah dan aman.

Adapun presfektif yang menclook hanyalah sebagai pemanis frase (kata) yang kerap disematkan didalam lingkup perusahaan yang berbasis di pusat ibu kota negara itu, bahkan tak ayal lembaga suwasta milik pemerintah kerap menggandeng konsorsium bekeja sama untuk mencapai tujuan bersama.

Tonggak dan lambang kemashuran dikultus untuk menjadi power perusahaan sebesar BUMN tersebut bahkan menjadi simbol kemegahannya, hingga bernilai brending atau tademark. Maka perusahaan raksasa itu tatkala menjadi sangat fenomemal dan strategis karena di bingkai dengan sitem tata kelolah yang mengadopsi leberalisasi, juga di poles dengan ide mujarb dan mutu otak brilian oleh para pelaku bisnis yang mumpuni, hingga difreming dengan struktur dan pola aturan yang dinamis.

Meski secara hirarkis kans yang di alokasikan pada lembaga berbadan suwasta milik negara itu terbatas namun, persekutuan yang modalnya terbagi dalam saham yang jumlah seluruhnya atau paling sedikit 51 % (lima puluh satu persen), sahamnya dimiliki oleh Negara Republik Indonesia namun, tujuan utamanya mengejar keuntungan atau
secara teknis di protek melalui otoritas jalur pemerintah.

Sebagai asumtif spesifikasi nilai bargening dan pemetaan skema proyek pasca gempa, likuifaksi (gempis) Pasigala dirunut sebagi rujukan untuk efektifitas memperpanjang jalur strategi dan nilai efesien dalam rentetan tata kelolah antra pasif dan masif, serta pencapaian produktifitas proyek multi years itu kualits progres dan bobotnya hasil garap tuntas diprotek tanpa pengecualian meski terbingkai tuntas padahal putus.

Plus-minus dalam pengololaan proyek pembangunan infrastruktur pasca bencana alam Pasigala memang menjadi sasaran empuk oleh para perusahaan dan vendor untuk berharap mendulang keuntungan yang besar, adapun dibalik itu sedikit banyaknya andil yang diprospek (brutal prevesion) atau penyimpangan secara brutal yang terstruktur sistimatis dan masif.

Manakala menyisahkan efek (between true and not) antara benar dan tidak, dan betapa langgengnya harmonisasi antara penyedia dan penyelenggara kompak dan fokus pada hasil garapan rehab rekon proyek yang ditangani hingga mencapai klimaks bobot 100 % tuntas dalam skala prioritas. Namun masih menyisahkan sedikit kekecewaan dikalangan masyarakat petani didua kecamatan di Sigi.

Subjectktifitas yang diandil begitu kontras diambang batas realitas, dan cenderung terkomeitmen di ruang gelap konspirasi, dan hitung-hutungan pun berakhir dibawah meja, dengan anteng diruang tertutup bertirai tanpa motif, hingga melenakan antara penyedia dan penyelenggara.

Pencapaian progres yang di reduksi melalui bargening yang terakumulasi dalam bingkai kualitas bobot dan prodauk fisik konstruksi, real dan masif yang tertuang diatas pertanggng jawaban profesional heand over (PHO) dan final heand over (FHO) secara progresive dan kasat mata makanya terlihat mentereng

bahkan perusahaan raksasa tersebut gaung pencapaian dan prestasi kinerjanya adalah level tertinggi dalam mengolah proyek multi year secara nasional, maka tak heran bila dimanifestasikan oleh lembaga pemerintah yang berkempentingan didalamnya menindak frontal untuk merepresentasikan ponten diatas rata-rata, dan kepekatan daya ambisi meningkat tajam ketitik didih temperatur dan melonjak kesuhu derajat ketinggkat yang lebih tinggi

Sehingga dengan enteng owner membeack-up pokok strategis untuk dibabi butakan dalam pertarungan saling unjuk pamor dan party power agar kerap mendapatkan brending stay lighting forst (menerangi posisi utama) terbesar dan tertinggi dikalangan internal para perusahaan BUMN.***

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *