Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Berita Sulteng

JIAT Bakal Mengairi 417 Hektar Sawah di Desa Tondo, Donggala, Dorong Produktivitas dan Ketahanan Pangan Daerah

18
×

JIAT Bakal Mengairi 417 Hektar Sawah di Desa Tondo, Donggala, Dorong Produktivitas dan Ketahanan Pangan Daerah

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

nesindonews.com Donggala Sulteng — Efektivitas dan dampak besar kehadiran JIAT (Jaringan Irigasi Air Tanah) di Desa Tondo 2, Kecamatan Sirenja, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, mulai mendapat perhatian luas. Program strategis nasional ini dinilai mampu menjadi solusi konkret bagi kebutuhan pengairan pertanian, sekaligus mendorong peningkatan produksi pangan serta kesejahteraan petani di wilayah tersebu

Keberadaan JIAT di Desa Tondo 2 diakui memiliki kapasitas jangkauan pengairan mencapai 20 hingga 40 hektar untuk satu sumur pompa, dan berpotensi menopang kebutuhan air bagi total 417 hektar lahan persawahan yang tersebar di kawasan itu.

Example 300x600

JIAT merupakan salah satu program unggulan pemerintah pusat yang dirancang sebagai sistem irigasi berbasis air tanah untuk menjawab tantangan kekurangan pasokan air, khususnya di daerah pertanian yang selama ini bergantung pada curah hujan atau sumber air permukaan yang terbatas.

Dengan hadirnya fasilitas tersebut, petani tidak lagi hanya berharap pada musim hujan untuk memulai musim tanam, melainkan dapat melakukan pola tanam yang lebih teratur bahkan berpotensi meningkatkan indeks pertanaman hingga beberapa kali dalam setahun.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK AB/AT) Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi III Palu, Andi Anugrah, saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, Kamis (23/4/2026), menjelaskan bahwa transformasi JIAT kini menjadi representasi sistem pengairan inovatif berbasis teknologi yang diharapkan memberi dampak signifikan terhadap pembangunan sektor pertanian.

“Transformasi JIAT kini menjadi representasi sistem pengairan inovatif yang berbasis teknologi mutakhir dan revolusioner. Program ini diharapkan menjadi salah satu sandaran utama yang membawa dampak perubahan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, khususnya di bidang pertanian,” ujarnya.

Menurutnya, pembangunan JIAT di Desa Tondo 2 sempat menghadapi sejumlah kendala teknis saat proses asesmen dan penentuan titik koordinat pemboran sumur dilakukan.

Pada awalnya, titik pemboran yang direncanakan berada di area yang ternyata memiliki sumber air panas sehingga lokasi tersebut dinilai kurang efektif untuk mendukung sistem irigasi yang dirancang.

Namun, tim teknis kemudian melakukan pemindahan titik pemboran ke lokasi lain yang dinilai lebih strategis dan hasilnya justru sangat menggembirakan.

“Alhamdulillah, saat dilakukan pemboran di titik yang baru, sumber mata airnya sangat melimpah. Ini menjadi kabar baik karena ketersediaan air merupakan faktor utama keberhasilan JIAT,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, untuk tahap awal, satu sumur pompa melalui jaringan saluran tersier JIAT diperkirakan mampu melayani antara 20 sampai 40 hektar lahan sawah.

Sementara secara keseluruhan, potensi luas areal pertanian di Desa Tondo diperkirakan mencapai 417 hektar.
“Untuk lahan operasional tahap pertama estimasinya sekitar 20 hektar. Tetapi berdasarkan spesifikasi dan kapasitas saluran tersier, satu sumur pompa bisa melayani hingga 40 hektar,” jelasnya.

Meski demikian, ia mengakui luas sawah 417 hektar tersebut belum seluruhnya dapat terfasilitasi oleh jaringan JIAT yang ada saat ini. Namun pemerintah membuka ruang pengembangan tambahan melalui mekanisme usulan sesuai prosedur.
Menurutnya, jika masih terdapat areal persawahan di Desa Tondo maupun wilayah lain di Kecamatan Sirenja yang belum terjangkau layanan irigasi air tanah, masyarakat bersama pemerintah desa dapat segera mengusulkan penambahan sumur JIAT melalui Dinas PUPR Kabupaten Donggala.

“Kalau memang masih ada areal sawah yang membutuhkan sumur JIAT, silakan diusulkan secepatnya melalui Dinas PUPR Kabupaten Donggala agar dapat diproses sesuai tahapan,” tegasnya.

Kehadiran JIAT sendiri dinilai bukan hanya soal penyediaan air bagi lahan pertanian, tetapi juga merupakan bagian dari strategi memperkuat ketahanan pangan nasional. Dengan ketersediaan irigasi yang lebih baik, petani berpeluang meningkatkan produktivitas padi, menekan risiko gagal panen akibat kekeringan, serta memperluas masa tanam.

Di sisi lain, program ini juga dipandang berpotensi menekan biaya produksi petani karena kebutuhan air yang lebih terjamin dapat mengurangi ketergantungan pada metode irigasi tradisional yang selama ini kurang efisien.

Sejumlah petani di Desa Tondo pun menyambut baik keberadaan program tersebut. Mereka menilai JIAT menjadi harapan baru bagi peningkatan hasil panen dan keberlanjutan sektor pertanian desa.

Dengan potensi pengairan yang terus dikembangkan, Desa Tondo disebut berpeluang menjadi salah satu kawasan pertanian produktif di Donggala yang dapat menopang pasokan pangan daerah.
Pemerintah pun diharapkan terus memperluas cakupan program JIAT, terutama pada wilayah-wilayah yang memiliki hamparan sawah luas namun belum memiliki sistem irigasi memadai.

Program ini juga sejalan dengan upaya pemerintah mendorong modernisasi pertanian berbasis infrastruktur dan teknologi, agar sektor pertanian tidak hanya bertahan tetapi juga tumbuh sebagai penopang ekonomi masyarakat pedesaan.

Jika pengembangan JIAT di Desa Tondo berjalan optimal dan diperluas secara bertahap, maka bukan tidak mungkin seluruh 417 hektar lahan sawah di kawasan itu dapat terlayani, sekaligus menjadi model pengembangan irigasi air tanah di wilayah lain di Sulawesi Tengah.

Redaksi : Lengie

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *